GIS for Pengembangan Kawasan Wisata - ArcView Tutorial
GIS for Pengembangan Kawasan Wisata

Oleh: I Wayan Nuarsa
Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana

ABSTRACT

Application of Geographic Information System to Determination Priority of Tourism Area Development in Badung Regency

Research on determination priority of tourism area development using Geographic Information System in Badung Regency was conducted on October 1999 up to January 2000. The study used map calculation with scoring system method to decide priority of the tourism area. Four parameters were applied to calculate a scoring value that is interest of place, available of land, tourism infrastructure, and accessibility. The result indicated that 21,559.66% ha (50.07%) of the study area classified to first priority, 17,293.03 ha (49.29%) grouped to second priority, and 144.59 ha (0.64%) categorized to third priority. The first priority of the tourism area development was located in south part of the Badung Regency, the second priority was found in middle and north part of the Badung Regency, and small portion of third priority established in north part of the regency. Thus, the best development of tourism area in Badung Regency is in the south part of the regency.

Keywords: Geographic Information System, Tourism, Area development planning

PENDAHULUAN

Jumlah lahan pertanian di Bali semakin hari semakin berkurang. Hal ini disebabkan adanya alih fungsi lahan dari fungsi pertanian ke non pertanian (Bappeda Bali, 1999). Menurut Bali Post (2001) Bali kehilangan lahan pertanian sebanyak 5.000 ha per tahun. Sementara di Kabupaten Badung, dalam kurun waktu 1999-2000 terjadi penurunan lahan sawah produktif sebanyak 122 ha (BPS Bali, 1999, BPS Bali, 2000).

Salah satu bentuk alih fungsi lahan adalah dari fungsi pertanian ke pariwisata. Dengan pertimbangan ekonomis, sektor pariwisata banyak meng?gunakan lahan pertanian untuk kegiatan pariwisata. Alih fungsi pemanfaatan lahan tersebut bukan saja pada lahan pertaian yang produktif, tetapi seringkali juga pada lahan-lahan berlereng dan lahan yang rawan bencana alam. Penggunaan lahan produktif untuk kawasan wisata disamping mempersempit lahan untuk kegiatan pertanian, juga dapat mengurangi daya tarik wisatawan karana sawah merupakan salah satu objek wisata alam (Ariastita, 2001). Sementara pemanfaatan lahan-lahan yang berlereng dan lahan rawan bencana alam dapat menyebabkan degradasi lahan dan kerusakan lingkungan (Kartasapoetra, 1989). Hal ini tentu akan menimbulkan bencana bagi masyarakat sekitarnya dan pada pembangunan pariwisata itu sendiri.

Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu dilakukan pemilihan lahan yang tepat untuk pengembangan kawasan wisata. Di satu sisi, pembangunan sektor pariwisata dapat berkembang dengan baik, sementara di sisi lain lahan pertanian yang produktif tidak banyak dikorbankan, dan lahan-lahan yang mempunyai faktor pembatas untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata tidak digunakan untuk tujuan konservasi tanah dan air.

Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengelola dan menganalisis data spasial (ESRI, 1999; Aronoff, 1989). Saat ini SIG bukan saja digunakan untuk mengolah data fisik spasial, tetapi juga data sosial ekomoni bereferensi geografis (Martin, 1996). Dalam hubungannya dengan pemilihan lahan untuk kawasan wisata, SIG dapat digunakan untuk menentukan daerah atau lokasi dimana dukungan terhadap pengembangan kawasan wisata besar, tetapi konflik dengan lahan pertanian produktif serta lahan-lahan berlereng dan lahan rawan bencana alam kecil. Dalam hal ini digunakan analisis query spasial dan tumpang susun peta melalui sistem pembobotan (De Meer, 1997; Borrough, 1988).

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prioritas pengembangan kawasan wisata di Kabupaten Badung dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 1999 sampai Januari 2000. Penentuan prioritas pengembang?an kawasan wisata di Kabupaten Badung dengan Sistem Informasi Geografi menggunakan sistem pembobotan (scoring). Dalam sistem tersebut digunakan 4 parameter utama yang menentukan kelayakan suatu daerah untuk dikem?bangkan sebagai kawasan wisata. Keempat paramater tersebut adalah daya tarik daerah, ketersediaan lahan, sarana dan prasarana, serta aksesibilitas. Kriteria pembobotan untuk masing-masing parameter diuraikan sebagai berikut.

Daya Tarik Daerah

Daya tarik wisatawan terhadap suatu daerah atau kawasan dinilai dari jumlah objek wisata alam dan budaya yang ada pada masing masing kecamatan di Kabupaten Badung. Kriteria pembobotan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Pembobotan daya tarik daerah

Ketersediaan Lahan

Parameter ketersediaan lahan menggunakan tiga sub parameter, yaitu peta penggunaan lahan, peta kemiringan lereng, dan peta rawan bencana alam. Kriteria pembobotan untuk ke tiga sub parameter tersebut seperti pada Tabel 2, Tabel 3, dan Tabel 4. Bobot nilai ketersediaan lahan merupakan hasil rata-rata dari ketiga sub paremeter tersebut.

Tabel 2. Pembobotan Penggunaan Lahan

Tabel 3. Pembobotan Lereng

Tabel 4. Pembobotan daerah rawan bencana alam

Sarana dan Prasarana

Parameter sarana dan prasarana terdiri dari 3 sub parameter yaitu jalan, air bersih, dan pelayanan jasa. Masing-masing sub parameter ini dinilai per kecamatan. Sub parameter pelayanan jasa menggunakan jumlah pelayanan jasa yang ada di tiap kecamatan. Pelayanan jasa tersebut mencangkup bank, sarana kesehatan, pos dan telekomoni?kasi, serta pusat perbelanjaan. Sementara jalan dan air bersih menggunakan nilai indeks dalam pembobotan masing-masing Indek Jalan (IJ) dan Indeks Air Bersih (IAB) dengan rumus sebagai berikut :

Tabel 5, Tabel 6, dan Tabel 7 masing-masing menyajikan kriteria pembobotan untuk jalan, air bersih dan pelayanan jasa.

Tabel 5. Pembobotan jalan

Tabel 6. Pembobotan air bersih

Tabel 7. Pembobotan pelayanan jasa

Bobot nilai parameter sarana dan prasarana dihitung dengan merata-ratakan sub parameter jalan, air bersih dan pelayanan jasa.

Aksesibilitas

Nilai skor paramater aksesibilitas dihitung dari jarak antara pusat kota atau bandara Ngurah Rai ke daerah penelitian. Analisis ini dilakukan melalui proses buffering dalam SIG. Tabel 8 menyajikan skor aksesibilitas.

Tabel 8. Skor Aksesibilitas

Penentuan Prioritas Kawasan Wisata

Dari keempat parameter di atas akan diperoleh 4 macam peta digital dengan nilai bobotnya masing-masing. Penentuan prioritas pengembangan kawasan wisata dilaku?kan dengan kalkulasi peta, yaitu dengan menjumlahkan nilai bobot dari ke empat parameter tersebut, kemudian dilakukan pembobotan kembali sebagai berikut :

Tabel 9. Skor prioritas kawasan wisata

HASIL DAN PEMBAHSAN

Dari hasil analisis didapatkan bahwa 21.559,66 ha (50,07%) daerah penelitian tergolong ke dalam prioritas I, 17.293,03 ha (49,29%) termasuk prioritas II, dan 144,59 ha (0,64%) dikelompokkan ke dalam prioritas III. Sementara prioritas IV tidak ditemukan di daerah penelitian. Secara lengkap prioritas pengembangan kawasan wisata di masing-masing kecamatan disajikan pada Tabel 10, Tabel 11, dan Tabel 12, sedangkan distribusinya secara spasial dapat dilihat pada Peta Analisis Kawasan Pariwisata Kabupaten Badung (Lampiran 1).

Tabel 10. Luasan prioritas pada masing-masing kecamatan

Tabel 11. Proporsi prioritas pada kecamatan

Tabel 12. Proporsi kecamatan pada prioritas

Dari Tabel 11 dapat dilihat bahwa Kecamatan Kuta dan Mengwi sangat potensial dikembangkan sebagai kawasan wisata. Sebanyak 96,09% wilayah Kuta termasuk prioritas I, sedangkan Kecamatan Mengwi menempati posisi kedua dengan 90,05% wilayahnya tergolong prioritas I. Sementara Kecamatan Petang dan Abiansemal, hampir seluruh wilayah kecamatan tersebut dikategorikan prioritas II. Di lain pihak Tabel 12 memberikan informasi bahwa 70,05% dari luas total Kabupaten Badung yang termasuk prioritas I terdapat di Kecamatan Kuta, 29,94 ada di Kecamatan Mengwi, sedangkan untuk prioritas II 54,40% termasuk wilayah Kecamatan Petang dan 38,76% berada di Kecamatan Abiansemal.

Bila dilihat penyebarannya secara spasial, prioritas I sebagian besar terdapat di bagian Selatan Kabupaten Badung, sementara prioritas II menyebar dibagian tengah dan Utara. Beberapa faktor yang menyebabkan Badung bagian Selatan sangat potensial untuk pengembangan kawasan wisata adalah faktor ketersediaan lahan, sarana dan prasarana, serta aksesibilitas. Sebagian besar lahan di kawasan tersebut bukanlah lahan pertanian produktif, sarana dan prasarana pariwisata sangat menunjang, serta mudah di jangkau dari pusat kota dan pelabuhan udara Ngurah Rai. Di sisi lain, Wilayah Badung bagian Utara sebagian besar masih tergolong lahan pertanian produktif, dukungan sarana dan prasarana pariwisata tidak sebanyak Badung bagian selatan, serta lebih jauh dari pusat kota dan lapangan udara.

KESIMPULAN

Untuk mengurangi pengalihan fungsi lahan dari pertanian produktif ke sektor pariwisata, pengembangan kawasan wisata Kabupaten Badung sebaiknya diprioritaskan di Badung Bagian Selatan karena dukungan terhadap pengembangan pariwisata sangat memungkinkan, sementara lahan pertanian produktif tidak banyak dikorbankan.

DAFTAR PUSTAKA

Ariastita, Putu Gede. 2001. Alih Fungsi Sawah di Bali, Ada Apa? Bali Post Selasa, 11 Agustus 2001 No. 346 Th. ke 53 hal. 2 kol. 2-5.

Aronoff, Stanley. 1989. Geographic Information Systems, A Management Perspective. Ottawa Canada.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Badung. 1999. Badung Dalam Angka 1998.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Badung. 2000. Badung Dalam Angka 1999.

Badan Pusat Statistik Propinsi Bali. 2000. Bali Dalam Angka 1999.

Badan Pusat Statistik Propinsi Bali. 2001. Bali Dalam Angka 2000.

Bali Post. 2001. Bali Kehilangan Lahan Pertanian 5.000 ha per Tahun. Bali Post Rabu, 25 April 2001 No. 242 Th. 53 hal. 11 kol. 5-9.

Bappeda Bali. 1999. Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Dalam Repilita VI Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bali.

Burrough, P.A. 1988. Principles of Geographical Information Systems for Land Resources Assessment. Oxford University Press, New York.

Demers, Michael N. 1997. Fundamental of Geographic Information Systems. John Wiley & Sons, Inc.

ESRI. 1992. PC ARC/INFO. Quick Reference Guide. Environmental Systems Research Institute, Inc.

ESRI. 1999. ArcView GIS 3.2. User?s Manual. Environmental Systems Research Institute, Inc.

Kartasapoetra, A.G. 1989. Kerusakan Tanah Pertanian dan Usaha untuk Merehabilitasinya. Bina Aksara, Jakarta.

Martin, David. 1996. Geographic Information Systems, Sosioeconomic Applications. Routledge, London and New York.